Jumat, 09 Oktober 2015


Nama :Hermayuni Sinaga
NPM  : E1I013035
Prodi  : ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BENGKULU


QUIS 2 PEMETAAN SUMBERDAYA HAYATI KELAUTAN

PENGERTIAN PETA DAN FUNGSI PETA

Peta adalah suatu penyajian grafis atau gambaran keadaan permukaan bumi yang digambar atau ditampilkan pada suatu bidang datar dan diperkecil dengan skala tertentu juga dilengkapi simbol sebagai penjelas. Gambaran permukaan bumi yang dipetakan dapat meliputi wilayah yang luas atau hanya mencakup wilayah yang sempit. Kartografi merupakan ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Beberapa ahli mendefinisikan peta dengan berbagai pengertian, namun pada dasarnya peta mempunyai arti yang sama. Berikut pengertian peta dari para ahli:



1. Menurut ICA (International Cartographic Association)
Peta adalah gambaran atau representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yang dipilih dari pemukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan.

  2. Menurut Aryono Prihandito (1998)
Peta adalah gambaran permukaaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui system proyeksi tertentu.

  3. Menurut Erwin Rainsz (1948)
Peta adalah gambaran konvensional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya kalau dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas.

4. Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal 2005)
Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan pada tingkatan pembangunan.

Secara umum, fungsi peta dapat disimpulkan sebagai berikut:
  •  Sebagai komunikasi informasi.
  •  Menunjukkan letak satu tempat di permukaan bumi dalam hubungannya dengan tempat             lain (letak relatif).
  • Memperlihatkan ukuran, karena dari peta dapat diukur jarak, luas, ataupun arah sebenarnya        di permukaan bumi.
  • Memperlihatkan bentuk seperti bentuk pulau, negara, benua, pola aliran sungai                          dan sebagainya.
  • Membantu para peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah yang        akan diteliti.
  • Alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.
  • Menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi.
  • Memperlihatkan ukuran (luas, jarak) dan arah suatu tempat di permukaan bumi.
  • Menggambarkan bentuk-bentuk di permukaan bumi, seperti benua, negara, gunung, sungai        dan bentuk-bentuk lainnya.
  • Membantu peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah yang akan       diteliti.
  • Menyajikan data tentang potensi suatu wilayah.
  • Alat analisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan.
  • Alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.
  • Alat untuk mempelajari hubungan timbal-balik antara fenomena-fenomena (gejala-gejala)          geografi di permukaan bumi.



Proses pembuatan peta dari bumi sampai Peta

Fungsi pembuatan peta antara lain:
1. Dengan adanya peta dapat menunjukkan posisi atau lokasi relatif yang hubungannya 
    dengan lokasi asli dipermukaan bumi.
2. Peta mampu memperlihatkan ukuran.
3. Peta mampu menyajikan dan memperlihatkan bentuk.
4. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan diatas peta 
    dengan simbolisasi.

Sedangkan tujuan pembuatan peta yaitu:
1. Untuk komunikasi informasi ruang.
2. Media menyimpan informasi.
3. Membantu pekerjaan.
4. Membantu dalam desain.
5. Analisis data spatial.
Referensi

Buzan, Tony. 2008. Buku Pintar Mind Map. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Djunarsjah, Eka. 2006. Diktat GD-33 HUKUM LAUT. Bandung: Penerbit ITB
Fathurrahman. 2006. IPS Geografi. Jakarta : Erlangga
Hadwi Soendjojo dan Akhmad Riqqi. 2012. Buku Kartografi. Bandung: Penerbit ITB
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.



Rabu, 30 September 2015

AKUSTIK PERIKANAN

                                                      AKUSTIK PERIKANA
Pengertian Akustik Kelautan
           Akustik kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium, dalam hal ini mediumnya adalah air laut (Allo, 2008). Menurut Budiarto (2001), dalam akustik, proses pembentukan gelombang suara dan sifat-sifat perambatannya serta proses-proses selanjutnya dibatasi oleh air. Untuk memperoleh informasi tentang objek-objek bawah air digunakan suatu sistem sonar yang terdiri dari dua sistem yaitu active sonar system yang digunakan untuk mendeteksi dan meneliti target-target bawah air dan passive sonar system yang hanya digunakan untuk menerima suara-suara yang dihasilkan oleh objek-objek bawah air.
Dalam perambatannya, akustik mengenal adanya transmission loss akibat adanya absorpsi dari medium, adanya kehilangan akibat penyebaran (spreading) di dalam medium air, impedansi akustik yang mempengaruhi nilai backscattering strength, ukuran butir dan sifat-sifat sedimen terhadap sifat-sifat akustik. (Noorjayantie, 2009). Selain itu, gangguan juga bisa terjadi dalam menjalankan metode akustik yang disebut dengan noise, yaitu sinyal yang tidak diinginkan yang dapat terjadi karena faktor fisik, biologi, dan artifisial (Allo, 2008).
           


Manfaat Akustik Kelautan
Secara garis besar, penggunaan dari Motode akustik ini adalah sebagai berikut :

1. Pada Bidang Militer :
Negara Amerika telah mengembangkan akustik dan menghasilkan suatu Akustik Perangkat Long Range (LRAD). LRAD dikembangkan untuk berkomunikasi pada rentang operasional dengan kewenangan dan memiliki keunggulan tinggi kebisingan pada lingkungan ambient. LRAD dirancang untuk  komunikasi di 300 meter  diatas tanah dan 500  meter di atas air, LRAD juga dapat mengeluarkan nada peringatan
2. Pada Survei Sumberdaya hayati Laut :
 Untuk menduga spesies ikan,
 Untuk menduga ukuran ikan,
 Untuk menduga kemelimpahan ikan, plankton dan biota lainnya.
3. Pada budidaya perairan :
 Untuk penentuan jumlah atau biomass ikan di dalam “Penned fish”,
 Untuk pengukuran ukuran dari individu “penned fish”,
 Untuk memantau kesehatan dan aktivitas ikan dengan “telemetering tags”.
4. Pada studi tingkah laku ikan dan organisme laut lainnya :
 Pergerakan ikan (migrasi atau ruaya vertikal dan horizontal),
 Tingkah laku/orientasi (tilt angle),
 Reaksi penghindaran dari kapal/alat penangkapan ikan (avoidance reactions),
 Respon terhadap stimuli.
5. Pada Perkapalan :
Perancangan alat tangkap berbasis akustik agar hasil tangkapan maksimal dan tidak tepat sasaran, karena dengan akustik dapat dideteksi kumpulan suatu ikan.

6. Pada oseanografi :
Suatu kajian Pengetahuan  yang mempelajari tentang sifat-sifat laut, baik dalam kimia, fisik, maupun bio-geo dan hal–hal yang bersifat kelautan lainnya menggunakan suatu alat akustik.
7. Pada Pemetaan :
Data dari pengukuran kedalaman dengan menggunakan alat akustik akan dapat dijadikan penggambaran suatu peta dasar laut.
8. Lain-lain, misalnya mempeiajari perambatan suara di air laut, sifat-sifat akustik dari air laut dan target atau obyek yang ada di  laut, pendeteksian sumber suara dan komunikasi yang ada di laut.



Sumber :

Allo, Obed Agtapura Taruk. 2008. Klasifikasi Habitat Dasar Perairan Dengan Menggunakan Instrumen Hidroakustik Simrad Ey 60 Di Perairan Sumur, Pandeglang – Banten. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Budiarto, Aris. 2001. Aplikasi Split Beam Acoustic System Untuk Pendugaan Nilai Densitas Ikan di Perairan Teluk Jakarta. Skripsi.  Institut Pertanian Bogor. Bogor
Hermawan, Rizza. 2002. Pendugaan Densitas Ikan Dengan Sistem Akustik Split Beam Serta Hubungannya dengan Kondisi Suhu dan Salinitas di Perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Skripsi. Insitut Pertanian Bogor. Bogor
http://oseanografi.wordpress.com/glossary/
http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2010/01/acoustic-doppler-current-profiler-adcp.html
Robert J. Urick, “Principles of Underwater Sound”, Peninsula Publishing, California, 1983
http://awalahas-samuderapengetahuan.blogspot.com/2011/03/akustik-kelautan.html
http://baipurnaedi.multiply.com/journal/item/16
http://hkti.org/2011/12/25/akustik-kelautan.html
http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperature-depth.html
Manik, Henry M. 2006. Pengukuran Akustik Scattering Strength Dasar Laut Dan Identifikasi Habitat Ikan Dengan Echosounder.
Noorjayantie, Roshyana Wahyu. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar Perairan Selat Gaspar Dan Sekitarnya Menggunakan Instrumen Simrad Ek60. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Akan tetapi pada dasarnya teknologi akustik bawah air merupakan metode yang sangat efektif dan berguna untuk eksploitasi kelautan perikanan. Teknologi akustik ini terdiri dari pengukuran, analisis, dan interpretasi karakteristik sigma refleksi atau scattering dari objek yang dikenai (Manik, 2006). Arnaya (1990) dalam Hermawan (2002) mengatakan bahwa metode akustik memiliki beberapa kelebihan, yaitu: berkecapatan tinggi, estimasi stok ikan secara langsung, memungkinkan memperoleh dan memproses data secara real time, akurasi ketepatan tinggi, tidak merusak karena frekuensi yang digunakan tidak membehayakan si pemakai alat ataupun target.