Pengertian Akustik Kelautan
Akustik kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium, dalam hal ini mediumnya adalah air laut (Allo, 2008). Menurut Budiarto (2001), dalam akustik, proses pembentukan gelombang suara dan sifat-sifat perambatannya serta proses-proses selanjutnya dibatasi oleh air. Untuk memperoleh informasi tentang objek-objek bawah air digunakan suatu sistem sonar yang terdiri dari dua sistem yaitu active sonar system yang digunakan untuk mendeteksi dan meneliti target-target bawah air dan passive sonar system yang hanya digunakan untuk menerima suara-suara yang dihasilkan oleh objek-objek bawah air.
Dalam perambatannya, akustik mengenal adanya transmission loss akibat adanya absorpsi dari medium, adanya kehilangan akibat penyebaran (spreading) di dalam medium air, impedansi akustik yang mempengaruhi nilai backscattering strength, ukuran butir dan sifat-sifat sedimen terhadap sifat-sifat akustik. (Noorjayantie, 2009). Selain itu, gangguan juga bisa terjadi dalam menjalankan metode akustik yang disebut dengan noise, yaitu sinyal yang tidak diinginkan yang dapat terjadi karena faktor fisik, biologi, dan artifisial (Allo, 2008).
Manfaat Akustik Kelautan
Secara garis besar, penggunaan dari Motode akustik ini adalah sebagai berikut :
1. Pada Bidang Militer :
Negara Amerika telah mengembangkan akustik dan menghasilkan suatu Akustik Perangkat Long Range (LRAD). LRAD dikembangkan untuk berkomunikasi pada rentang operasional dengan kewenangan dan memiliki keunggulan tinggi kebisingan pada lingkungan ambient. LRAD dirancang untuk komunikasi di 300 meter diatas tanah dan 500 meter di atas air, LRAD juga dapat mengeluarkan nada peringatan
2. Pada Survei Sumberdaya hayati Laut :
Untuk menduga spesies ikan,
Untuk menduga ukuran ikan,
Untuk menduga kemelimpahan ikan, plankton dan biota lainnya.
3. Pada budidaya perairan :
Untuk penentuan jumlah atau biomass ikan di dalam “Penned fish”,
Untuk pengukuran ukuran dari individu “penned fish”,
Untuk memantau kesehatan dan aktivitas ikan dengan “telemetering tags”.
4. Pada studi tingkah laku ikan dan organisme laut lainnya :
Pergerakan ikan (migrasi atau ruaya vertikal dan horizontal),
Tingkah laku/orientasi (tilt angle),
Reaksi penghindaran dari kapal/alat penangkapan ikan (avoidance reactions),
Respon terhadap stimuli.
5. Pada Perkapalan :
Perancangan alat tangkap berbasis akustik agar hasil tangkapan maksimal dan tidak tepat sasaran, karena dengan akustik dapat dideteksi kumpulan suatu ikan.
6. Pada oseanografi :
Suatu kajian Pengetahuan yang mempelajari tentang sifat-sifat laut, baik dalam kimia, fisik, maupun bio-geo dan hal–hal yang bersifat kelautan lainnya menggunakan suatu alat akustik.
7. Pada Pemetaan :
Data dari pengukuran kedalaman dengan menggunakan alat akustik akan dapat dijadikan penggambaran suatu peta dasar laut.
8. Lain-lain, misalnya mempeiajari perambatan suara di air laut, sifat-sifat akustik dari air laut dan target atau obyek yang ada di laut, pendeteksian sumber suara dan komunikasi yang ada di laut.
Sumber :
Allo, Obed Agtapura Taruk. 2008. Klasifikasi Habitat Dasar Perairan Dengan Menggunakan Instrumen Hidroakustik Simrad Ey 60 Di Perairan Sumur, Pandeglang – Banten. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Budiarto, Aris. 2001. Aplikasi Split Beam Acoustic System Untuk Pendugaan Nilai Densitas Ikan di Perairan Teluk Jakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Hermawan, Rizza. 2002. Pendugaan Densitas Ikan Dengan Sistem Akustik Split Beam Serta Hubungannya dengan Kondisi Suhu dan Salinitas di Perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Skripsi. Insitut Pertanian Bogor. Bogor
http://oseanografi.wordpress.com/glossary/
http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2010/01/acoustic-doppler-current-profiler-adcp.html
Robert J. Urick, “Principles of Underwater Sound”, Peninsula Publishing, California, 1983
http://awalahas-samuderapengetahuan.blogspot.com/2011/03/akustik-kelautan.html
http://baipurnaedi.multiply.com/journal/item/16
http://hkti.org/2011/12/25/akustik-kelautan.html
http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperature-depth.html
Manik, Henry M. 2006. Pengukuran Akustik Scattering Strength Dasar Laut Dan Identifikasi Habitat Ikan Dengan Echosounder.
Noorjayantie, Roshyana Wahyu. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar Perairan Selat Gaspar Dan Sekitarnya Menggunakan Instrumen Simrad Ek60. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Akustik kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium, dalam hal ini mediumnya adalah air laut (Allo, 2008). Menurut Budiarto (2001), dalam akustik, proses pembentukan gelombang suara dan sifat-sifat perambatannya serta proses-proses selanjutnya dibatasi oleh air. Untuk memperoleh informasi tentang objek-objek bawah air digunakan suatu sistem sonar yang terdiri dari dua sistem yaitu active sonar system yang digunakan untuk mendeteksi dan meneliti target-target bawah air dan passive sonar system yang hanya digunakan untuk menerima suara-suara yang dihasilkan oleh objek-objek bawah air.
Dalam perambatannya, akustik mengenal adanya transmission loss akibat adanya absorpsi dari medium, adanya kehilangan akibat penyebaran (spreading) di dalam medium air, impedansi akustik yang mempengaruhi nilai backscattering strength, ukuran butir dan sifat-sifat sedimen terhadap sifat-sifat akustik. (Noorjayantie, 2009). Selain itu, gangguan juga bisa terjadi dalam menjalankan metode akustik yang disebut dengan noise, yaitu sinyal yang tidak diinginkan yang dapat terjadi karena faktor fisik, biologi, dan artifisial (Allo, 2008).
Manfaat Akustik Kelautan
Secara garis besar, penggunaan dari Motode akustik ini adalah sebagai berikut :
1. Pada Bidang Militer :
Negara Amerika telah mengembangkan akustik dan menghasilkan suatu Akustik Perangkat Long Range (LRAD). LRAD dikembangkan untuk berkomunikasi pada rentang operasional dengan kewenangan dan memiliki keunggulan tinggi kebisingan pada lingkungan ambient. LRAD dirancang untuk komunikasi di 300 meter diatas tanah dan 500 meter di atas air, LRAD juga dapat mengeluarkan nada peringatan
2. Pada Survei Sumberdaya hayati Laut :
Untuk menduga spesies ikan,
Untuk menduga ukuran ikan,
Untuk menduga kemelimpahan ikan, plankton dan biota lainnya.
3. Pada budidaya perairan :
Untuk penentuan jumlah atau biomass ikan di dalam “Penned fish”,
Untuk pengukuran ukuran dari individu “penned fish”,
Untuk memantau kesehatan dan aktivitas ikan dengan “telemetering tags”.
4. Pada studi tingkah laku ikan dan organisme laut lainnya :
Pergerakan ikan (migrasi atau ruaya vertikal dan horizontal),
Tingkah laku/orientasi (tilt angle),
Reaksi penghindaran dari kapal/alat penangkapan ikan (avoidance reactions),
Respon terhadap stimuli.
5. Pada Perkapalan :
Perancangan alat tangkap berbasis akustik agar hasil tangkapan maksimal dan tidak tepat sasaran, karena dengan akustik dapat dideteksi kumpulan suatu ikan.
6. Pada oseanografi :
Suatu kajian Pengetahuan yang mempelajari tentang sifat-sifat laut, baik dalam kimia, fisik, maupun bio-geo dan hal–hal yang bersifat kelautan lainnya menggunakan suatu alat akustik.
7. Pada Pemetaan :
Data dari pengukuran kedalaman dengan menggunakan alat akustik akan dapat dijadikan penggambaran suatu peta dasar laut.
8. Lain-lain, misalnya mempeiajari perambatan suara di air laut, sifat-sifat akustik dari air laut dan target atau obyek yang ada di laut, pendeteksian sumber suara dan komunikasi yang ada di laut.
Sumber :
Allo, Obed Agtapura Taruk. 2008. Klasifikasi Habitat Dasar Perairan Dengan Menggunakan Instrumen Hidroakustik Simrad Ey 60 Di Perairan Sumur, Pandeglang – Banten. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Budiarto, Aris. 2001. Aplikasi Split Beam Acoustic System Untuk Pendugaan Nilai Densitas Ikan di Perairan Teluk Jakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Hermawan, Rizza. 2002. Pendugaan Densitas Ikan Dengan Sistem Akustik Split Beam Serta Hubungannya dengan Kondisi Suhu dan Salinitas di Perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Skripsi. Insitut Pertanian Bogor. Bogor
http://oseanografi.wordpress.com/glossary/
http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2010/01/acoustic-doppler-current-profiler-adcp.html
Robert J. Urick, “Principles of Underwater Sound”, Peninsula Publishing, California, 1983
http://awalahas-samuderapengetahuan.blogspot.com/2011/03/akustik-kelautan.html
http://baipurnaedi.multiply.com/journal/item/16
http://hkti.org/2011/12/25/akustik-kelautan.html
http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperature-depth.html
Manik, Henry M. 2006. Pengukuran Akustik Scattering Strength Dasar Laut Dan Identifikasi Habitat Ikan Dengan Echosounder.
Noorjayantie, Roshyana Wahyu. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar Perairan Selat Gaspar Dan Sekitarnya Menggunakan Instrumen Simrad Ek60. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.